best advertiser
Rabu, 02 November 2011
Kebudayaan suku Punan Ninai Hulu
1 suku punan
Punan dapat ditemukan dalam catatan penjelajah alam dari abad XIX. Carl Bocks ketika menjelajah belantara Kalimantan Timur pada 1870-an bertemu dengan sebuah kelompok kecil beranggota 7-10 orang yang disebut Poonan. Bocks menggambarkan mereka sebagai orang-orang liar dari rimba yang hampir sama sekali terasing dari dunia luar dan meyakini mereka adalah penduduk asli Kalimantan. Keyakinan serupa dikemukakan pula oleh Charles Hose yang datang ke pedalaman Kalimantan pada akhir abad XIX. Sementara Fay-Cooper Cole pada 1940-an menjumpai kelompok itu telah tinggal di gubug/ pondok darurat, sehingga ia lalu mendefinisikan Punan sebagai ‘penghuni pondok-pondok darurat’ (dikutip melalui Hoffman, 1985: 125-126).
Sejauh menyangkut Punan Binai Hulu, konsep pemburu dan peramu (hunter and gatherer) tetap penting digunakan untuk memahami kehidupan mereka. Selain menjelaskan kegiatan utama manusia selama 2 juta tahun dan menjadi tanda awal perkembangan peradaban moderen, cara hidup itu pada dasarnya tetap berlaku hingga kini. Kenyataannya hingga masyarakat yang kelangsungan hidupnya ditopang oleh kegiatan berburu dan meramu masih dapat ditemukan pada masa moderen sekarang ini (Barnard, 2000: 467-468), seperti suku Punan Binai Hulu.
2. Gambaran Umum Punan Binai Hulu
Sampai dengan akhir abad XX suku Punan Binai Hulu masih tinggal di lapo di hutan Sibubuk. Ada dua jenis lapo yang dapat ditemukan di sini, yakni lapo berdinding dan beratap berukuran sekitar 4 x 5 meter. Kerangka dan dindingnya dari kayu ulin, atapnya dari daun rotan, dan dibangun setinggi sekitar satu meter di atas permukaan tanah. Jenis lapo lain lebih sederhana, karena dibuat dari batang kayu muda berdiameter 5-7 centimeter yang ditata berjajar membentuk ‘lantai’ empat persegi panjang berukuran sekitar 4 x 6 meter setinggi kurang dari setengah meter di atas permukaan tanah. Sekitar setengah meter di sebelah kanan ‘lantai’ terdapat ‘dapur’ yang dibuat dengan memancangkan dua batang kayu muda berjarak empat meter satu sama lain. Bagian atasnya dihubungkan oleh sebatang kayu muda lain dengan cara mengikatkannya pada batang kayu yang telah dipancangkan. Batang penghubung itu digunakan untuk menggantung periuk dan ketel untuk menanak nasi dan merebus air. Lapo semacam ini dibuat tanpa dinding dan hanya dapat dijumpai di liang yang berada di bagian hutan lebih dalam. Liang merupakan istilah yang digunakan orang Punan Binai Hulu untuk menyebut tempat berupa cekungan pada dinding batu yang tingginya mencapai 50 meter atau lebih. Lapo-lapo di dalam cekungan itu terhindar dari air hujan, karena bagian permukaan dinding batu yang paling atas ditumbuhi pohon-pohon besar dan semak-semak lebat yang berfungsi sebagai ‘atap’. Juga terhindar dari angin besar, sebab liang itu dikelilingi dinding batu di semua sisi. Dilihat dari tempat yang agak tinggi dan berjarak agak jauh bentangan liang menyerupai sumur. Dasarnya berupa dataran melingkar dan bagian luarnya di kelilingi dinding batu yang tinggi. Udara di dalam liang terasa sejuk. Di dekat liang ada goa walet dan di bawah goa itu terdapat mata air yang menjadi pangkal atau hulu Sungai Binai. Itulah sebabnya Punan yang hidup di sini disebut Punan Binai Hulu.
3. Aktivitas Berburu
Aktivitas berburu dilakukan oleh seluruh anggota Punan Binai Hulu. Kaum ibu dan anak-anak memancing ikan dengan menggunakan umpan sisa perasan madu. Ibu-ibu memancing sambil menggendong balita. Beberapa di antaranya menggendong dua balita di dada dan punggung. Ikan yang biasa diperoleh adalah salap, belan, besayap, dan merungan.
4. Aktivitas Pengumpulan Hasil Hutan
Pengumpulan hasil hutan meliputi kegiatan mengambil atau memanen madu, memanen sarang walet, dan mengumpulkan ubi hutan. Ada dua jenis lebah penghasil madu yang dikenal Punan Binai Hulu, yakni lebah merah dan kuning. Lebah merah bersarang pada batang pohon berongga dan menghasilkan madu berwarna kemerahan. Yang paling banyak dijumpai adalah lebah kuning yang sarangnya menempel di dahan pohon dan madu yang dihasilkan berwarna kuning bening.
Kehidupan sebagai pemburu dan pengumpul hasil hutan yang nomadis barangkali sulit dibayangkan oleh orang-orang di luar masyarakat yang mempraktikannya. Namun kenyataannya masyarakat serupa ini masih dapat ditemukan di Indonesia. Dalam tulisan ini telah dipaparkan beragam aktivitas yang menunjukkan suku Punan Binai Hulu sebagai kelompok pemburu dan peramu atau pengumpul hasil hutan.
kebudayaan indonesia yang rentan tua semakin tergilas ooleh kesilauan acara televisi yang cukup menghibur. tak dipungkiri sayapun terhipnotis diam ketika menyaksikan acara-acara yang dirangkai sedemikian rupa......
sumber
eprints.undip.ac.id/3270/1/25_Punan_Primitif(Pak_Mahendra).doc
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar